Jumat, 28 Oktober 2011

Menyentuh Langit Bersama Ibu


Malam sudah larut, tapi Kinan masih belum tampak mengantuk. Gadis kecil 5 tahun itu malah bertanya ini itu tentang dongeng yang ayah ceritakan.

Ayah yang mulai kehabisan cerita akhirnya memanggil ibu.

"Bu.. Kinan masih belum merem juga nih..," keluh ayah sambil mengusap-usap dahi anaknya. Ayah duduk di ranjang memandangi Kinan yang meringis lalu merengek, "Kinan mau dongeng lagi yah,"

"Sama ibu ya Nak, ayah kok rasanya lelah sekali," ayah memandang anaknya dengan pandangan lelah.

"hehe..mata Ayah merah," gadis kecil ini pun mengangguk.

Ibu yang dari tadi berdiri di ujung pintu kamar akhirnya mendekati ranjang kecil anaknya. Ibu duduk di sebelah Kinan lalu memijit pelan kaki gadis kecilnya yang sedang manja itu, lalu berkata pada ayah, "Istirahatlah yah.."

Si ayah mengangguk, mengecup mata mungil Kinan, lalu sebentar diusap lembut kepala istrinya dan kemudian ayah keluar dari kamar.

Kinan tersenyum manja pada ibunya.
"Ibu, punya dongeng baru?" ia bertanya penuh harap sambil memeluk guling kesayangannya.

"Kita ngobrol dengan langit saja yuk," kata ibu sambil membuka jendela yang ada persisi di sisi ranjang.

Kinan bingung, tapi mengangguk.

Ibu menyibakkan tirai jendela lebih lebar agar langit bisa terlihat luas. Lalu ia merebahkan tubuhnya di sebelah sang anak yang langsung merapatkan tubuh kecilnya ke tubuhnya. Dipeluknya Kinan dari belakang. Kini keduanya melihat langit malam yang berbulan sabit dan penuh bertabur bintang.


"Lihatlah Nak, betapa bulan dan bintang terlihat sangat indah dari sini," ibu menatap langit sambil terus mengusap lembut lengan Kinan.

Kinan menoleh cepat ke wajah ibu, lalu mengikuti arah pandangan ibu ke langit. "Iya bu..indah..," gadis kecil itu pun mengangkat tangannya seperti ingin menggapai benda-benda langit yg terlihat.
"Tapi kenapa mereka sangat jauh Bu, Kinan tak bisa pegang..Kinan ingin pegang mereka Bu."

Ibu tersenyum. "Iya, mereka jauh Nak..harus belajar yang rajin dulu, lalu jadi astronot, biar nanti Kinan cantik bisa terbang ke bulan."

"Kalau mau bertemu bulan harus jadi astronot ya, Bu? Tita-cita Kinan kan ingin jadi guru," tangan Kinan masih menggapai-gapai bintang.

Ibu tersenyum dan berkata, "Sekarang pun Kinan bisa memegang mereka."
Ibu lalu ikut mengulurkan tangannya ke atas lalu menekuk jemarinya mengikuti bentuk bulan sabit.
"Nah, ibu sudah memegang bulan sabitnya. Ke sini, mana tangan Kinan?"


Ibu menyesuaikan sudut pandangnya dengan sudut pandang si anak. Setelah merasa sudut pandangnya sama, ibu menuntun tangan mungil anaknya ke tangannya yang telah memegang bulan sabit.
"Lihat, Kinan sekarang sudah memegang bulan sabit," bisik ibu.

Sambil menahan tangannya di bulan sabit, Kinan menoleh sebentar pada ibu dan tersenyum lebar.

"Iya Bu, sudah Kinan pegang!" Kinan menjejakkan kaki saking senangnya.

Ibu pelan-pelan menarik tangan buah hatinya dari bulan sabit kembali ke dekapannya.

Sambil memeluk tubuh kecil Kinan, ibu berkata pelan setengah berbisik ke telinga anaknya.

"Nak, kau bisa merasakan keindahan bulan dan bintang dari sini. Kau bahkan tak perlu menyentuh mereka untuk bisa merasakan keindahannya. Mereka jauh, tapi keindahannya begitu kuat sehingga bisa menjangkau Kinan, di mana pun Kinan berada."

"Seperti ayah dan ibu yang tak mungkin bisa bersama Kinan selamanya. Tapi kasih sayang kami begitu kuat, sehingga walaupun tak bisa bersentuhan, cinta kami akan menjangkaumu, Nak. Di mana pun Kinan berada."

Kinan menoleh ke ibunya dengan wajah penuh tanya.


Ibu memandang mata anak semata wayangnya lekat-lekat dan menangkap kebingungan si anak.
"Doa Nak, doa lah yang akan mengantarkan cinta ke mana pun dan kepada siapa pun."



"He em," Kinan mengangguk kuat.

Tangan kecilnya menengadah lalu terlantun, "Rabbighfir lii waliwaa lidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa..amiiin..."
(red. Ya Tuhanku.. Ampunilah aku, ibu ayahku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mengasihi aku saat kecil)

Ibu pun merengkuh tubuh kecil Kinan, lalu berbisik dalam hati, "soleh dan doamu lah Nak, yang akan mengantarkan ibu dan ayah kepada keindahan hakiki."


*dalam rangka bersyukur menjadi anakmu, Mah..Tah..*

Selasa, 23 Agustus 2011

Mbul, Ratu Romut Tak Secantik Ibu...


Setelah menyandarkan sepeda mininya di garasi, Rindu masuk rumah. Dengan ransel merah di bahu, tangan kanan Rindu menenteng kotak bekalnya yang telah kosong.

Siang ini Rindu ingin cepat bertemu Gembul. Gembul, boneka beruang cokelat yang sudah lusuh. Bulunya sudah tak sehalus dulu. Bahkan bulu di beberapa bagian tubuhnya sudah botak.

Walau begitu, Rindu sangat sayang pada Gembul. Tak peduli kini Gembul tak selucu dan semanis dulu. Rindu tetap lebih memilih Gembul sebagai pendengar cerita-ceritanya tiap pulang sekolah.

Gembul sangat pendiam. Beruang kecil itu tak akan menyela Rindu ketika asyik bercerita. Gembul juga tak akan protes kalau cerita Rindu mulai tak masuk akal. Selain itu, Gembul nyaman dipeluk. Badan gendut yang kini baunya sama dengan bau badan Rindu, membuat gadis kecil itu tak bisa jauh darinya.

Ajakan main oleh segerombolan teman ditolak Rindu. Siang ini Rindu punya banyak cerita tentang kerajaan Romut di belakang sekolah. Sebelum lupa, Rindu harus cepat-cepat bertemui Gembul dan menceritakan semuanya.

"Mbul, tadi siang kerajaan Romut berhasil membangun menara kastil baru. Ada empat jendela dan dua pintu besar. Pasti prajurit Romut lelah sekali hari ini..," Rindu memulai ceritanya sambil menaruh Gembul di pangkuannya.

"Pasukan Romut tadi mengisi menara itu dengan banyak makanan. Barisan mereka semakin rapi. Sepertinya mereka rajin berlatih. hehe...," tangan Rindu tak berhenti mengelus kepala Gembul.

"Dan tau kah kau Mbul, Sang Ratu tadi mengundangku masuk ke menara barunya untuk makan siang bersama seluruh pasukannya. Tapi Rindu bilang, Rindu sudah bawa bekal masakan ibu dari rumah. Rindu makan di sini saja..yang penting tetap makan sama-sama..Jadi, tadi Rindu makan siang bersama pasukan Romut, Mbuul...," Rindu menaikkan nada suaranya karena senang.

Gembul masih diam. Bibir cokelatnya membentuk senyum yang sama. Tapi mata Rindu menangkap ada tarikan lebih di sana.. "ah Gembuul..kau senang dengan ceritaku yaa? tapi Rindu mengantuk..," Rindu merebahkan badan sambil tetap memeluk Gembul.

"Mbul..Rindu kangen Ibu..Semoga sepulang kerja nanti ibu tidak terlalu lelah ya..Rindu ingin Ibu tau tadi Rindu makan siang di kerajaan Romut..Rindu juga ingin ibu tahu kalau Ratu Romut sangat cantik..tapi tak secantik ibu..,"

Tak lama, Rindu terlelap dengan simpul senyum samar.

Jumat, 19 Agustus 2011

Gandeng Aku, Kak...!!




Masih sama seperti pagi kemarin, aku dan kakak berjalan kaki berangkat ke sekolah. Aku kelas 1 dan kakak kelas 4 di sekolah dasar yang sama. Kakak menggandengku sepanjang jalan, digenggamnya dengan erat tanganku seperti takut akan terlepas.

Aku memang tidak bisa kalau hanya berjalan begitu saja. Sesekali harus melompat, entah melompati lubang di jalan atau melompat untuk memetik bunga yang lebih tinggi dari tinggi badanku. Sesekali harus berlari, entah mengejar kupu-kupu, atau sekedar minta dikejar kakak.

"Jaga baik-baik adikmu Wulan, jangan sampai Lintang jatuh lagi," pesan ibu saat kami berpamitan ke sekolah pagi tadi. Pesan itu sepertinya yang membuat kakakku menggenggam tanganku lebih erat dari biasanya. Tangan kami yang bertautan sepanjang jalan mulai basah oleh keringat. Padahal perjalanan masih jauh.

Aku yang mulai tak nyaman mulai protes. "Lepaskan kak! capek digandeng terus, aku janji tidak akan jatuh..," aku merajuk sambil menarik tanganku.

Kakak hanya diam saja, sambil terus menahan genggamannya.
"Kak......!," aku mulai marah. Luka di lututku yang belum kering sesekali masih perih kalau tersenggol rok sekolah. Membuatku berjalan dengan cara yang aneh.

"Kenapa Lintang begitu jalannya, Lan?" teriak tetanggaku dari dalam warungnya yang kami lewati.
"Lututnya bopeng, Mak. Kemarin jatuh tersandung batu," kakakku tak kalah kencang berteriak.

"Kak..Lintang janji tidak akan lari..lepaskan kak," aku masih merajuk, kali ini tanpa menarik tangan. Kakak masih diam saja tak menggubrisku. Kakak malah menggoyang-goyangkan tangan kami ke depan dan ke belakang sambil bernyanyi-nyanyi kecil.

Sambil terus cemberut, aku pasrah digandeng kakak sampai tiba di sekolah. Begitu kami berdua masuk pagar sekolah, sekuat tenaga kutarik tangan kananku yang mulai licin karena keringat. Kakakku yang tak siap tak bisa menahan genggamannya lagi. Setelah lepas, aku melompat girang dan berlari kencang ke arah kelas.

"Dadaah kak....nanti Lintang pulang sendiri saja. Lintang tidak mau digandeng kakak lagi...Capek!" teriakku sambil berlari makin kencang, dan "Brukkk!"
Aku terjerembab di tengah lapangan sekolah. Aku terngkurap tepat di genangan air sisa hujan semalam. Badanku penuh lumpur, wajahku perih.

"Kakaaak.......!huwaaa....sakiiiiitt....!" tangisku seketika. Kakakku langsung berlari menghampiriku. Masih tak berkata apa-apa, dia terburu-buru membersihkan wajahku dari lumpur dengan saputangannya. Kakak masih diam, dan aku menangis semakin kencang.

Diangkatnya badan kecilku yang kotor oleh lumpur. Kakak menggendongku di punggungnya. Bajunya pun kotor karena lumpur di bajuku.
Aku masih menangis..Lalu tiba-tiba kakak menarik tanganku yang menggelayut di lehernya, dan mencium tanganku dengan lembut. "Sudah..cup...Maafkan kakak, lain kali kakak akan lebih kuat menggandengmu, Lintang,"

Tangisku sempat terhenti, lalu pecah lagi. "Kakak....maafkan Lintang....," teriakku, sambil memeluk lehernya. Kakak hanya mengangguk kecil dan berjalan keluar gerbang sekolah. Kami pulang.

Senin, 15 Agustus 2011

Merindu Adzan #Cerita Sumba3



Sumba, Desember 2009

Alarm ponsel berdering kencang membungkam sepinya pagi. Deringnya sombong membangunkan siapa saja yang ada di dekatnya. Saya, si empunya ponsel pun reflek menekan tombol off.
Dalam hati : "oke pagi..saya bangun..."

Dan seperti biasa, tak ada lagi suara adzan yang lantang menyambut pagi. Hanya alarm saya, dan beberapa teman lain yang bersahutan membangunkan tuannya masing-masing. Di kamar ini, masih dengan kami bertiga. Saya, seorang teman muslim, dan seorang teman Kristen dari Kupang. Dan berhubung saya spesialis begadang, kadang si teman tak tega membangunkan saya yang tidur lelap di sisi laptop dan tumpukan data.

Subuh..kami sambut dengan guyuran air wudlu yang sudah kami siapkan semalam. Setiap malam sebelum tidur, yang terakhir kami siapkan adalah persediaan air bersih dalam botol minuman mineral ukuran 1,5 liter untuk wudlu esok paginya.

Tuhan..ini maksimal air yang bisa kami miliki pagi ini. Dengan namaMu ya Allah, kami pun menuangkan sedikit demi sedikit air dari botol. Sehati-hati mungkin, agar tak ada aliran air yang terbuang sia-sia.

Begitu seterusnya yang kami alami selama kira-kira 3 pekan di awal. Bersyukurlah saya lebih banyak tinggal di basecamp, sehingga saya bisa menyediakan air wudlu dengan lebih mudah. Sedangkan teman-teman enumerator yang terjun ke lapangan, dipastikan akan mendapat tantangan yang lebih berat untuk tetap mendirikan solat 5 waktunya.

Selain kondisi air yang sangat terbatas, hilangnya suara adzan dari telinga kami sungguh berhasil mengeringkan sebagian dari diri kami. Makin sempurna kekeringan kami saat Idul Adha kami lewati di desa pedalaman. Sama sekali tanpa gegap takbir seperti biasa. Saya dan teman sekamar pun merasa cukup dengan bertakbir sayup di dalam kamar, hanya kami berdua. Solat ied yang juga terlewatkan melengkapi sepi kami. Sungguh kering rasanya.

Di pekan-pekan terakhir barulah kami memasuki kecamatan yang lebih dekat dengan kota. Kecamatan Umalulu. Walau tetap menjadi minoritas, kami menemukan sebuah masjid megah di tengah komplek sekolah madrasah. Di depan masjid, berjejer rumah dinas guru dan karyawan, yang sebagian besar dari mereka adalah pendatang.
Setelah hampir sebulan kami hidup tanpa masjid dan adzan, saya dan teman sekamar kadang menunggu adzan di masjid. Walaupun di basecamp ada kamar mandi dan cukup air, kami sengaja memilih mandi di kamar mandi masjid. Setelah mandi kami duduk diam di masjid. Menikmati rumah Tuhan yang berhasil menyejukkan keringnya sebagian diri kami.
Setelah tiga pekan kami bergantung pada jam ponsel sebagai penunjuk waktu solat. Akhirnya kami kembali mendengar 'panggilan' yang lantang diserukan sang muadzin. Tak jarang kami pun sengaja datang ke masjid lebih awal untuk menunggu 'dipanggil'.

Bandingkan ketika di rumah. Adzan terkumandangkan dari segala penjuru. Menyerukan panggilanNya untuk seluruh hamba di muka bumi. Merasa terpanggil kah?

Bahkan diakui atau tidak, kadang adzan seolah hanya menjadi penunjuk waktu. Tak lebih hanya sebagai tanda pergantian waktu. Tak ada rasa terpanggil untuk menghadapNya lagi ketika mendengarnya. Inilah rindu kami. Rindu para makhluk Tuhan, yang begitu lahir kami diperdengarkan adzan, lalu nanti di liang kubur pun kami dilepas dengan kumandang adzan.

Rindu memang akan datang ketika ada menjadi hilang. Semoga ini bukan rindu yang sia-sia. Kami akan mengingat rindu ini agar tak lagi menafikkan nikmat..
Alhamdulillah :)

Sabtu, 13 Agustus 2011

Blocknote dan Pak Raden



Mari membicarakan uang :)
Sejak beberapa bulan lalu saya sangat terinspirasi dengan sebuah serial Jepang berjudul Ketsuekigatabetsu Onna ga Kekkon Suru Hoho. Serial ini bercerita tentang 4 perempuan yang masing-masing berbeda golongan darahnya. Saya terinspirasi pada salah satu karakter bernama Sachie yang bergolongan darah A. Sachie sangat teliti dengan urusan keuangannya setiap hari. Oke, golongan darah saya AB. Tapi tak ada salah kan menjiplak yang menurut saya lebih baik. Sekalian sebagai pembuktian, tak hanya perempuan A yang bisa rapi. Setidaknya berusaha rapi :D
Setiap pulang kerja, Sachie duduk rapi di meja kamarnya, mencatat detail setiap pemasukan dan pengeluaran hari itu. Tak ketinggalan uang di dompet ia keluarkan, hitung, dan ditata rapi di atas meja. Buku tabungannya pun konsisten terisi setiap bulan. Manis sekali :)

Cerita dua, mamahku. Beliau punya buku bersampul motif batik lusuh yang sudah edisi jilid ke berapa belas, saya tidak tau. Mamah mencatat setiap pemasukan dan pembelian, setiap hari. Isinya? belanja bayam, tempe, uang saku mega..sampai parkir! mamahku memang yoi :)

Cerita tiga, ibu seorang teman. Beliau ternyata juga memiliki kebiasaan yang sama dengan mamah. Mencatat semua pemasukan dan pengeluaran setiap hari. Menurut cerita teman, ibunya tiap malam di kamar akan berkutat dengan catatan keuangannya. Ternyata ini memang sudah menjadi ritual para ibu rumah tangga. :)

Cerita tiga, tentang seorang teman yang jadi counter pulsa berjalan. Seperti yang kita tau, bisnis ini adalah bisnis yang hampir dipastikan punya daftar piutang terpanjang. Pembeli tinggal sms minta kirim pulsa, bayarnya entah kapan. Semoga Allah membalas kebaikan para penjual pulsa ini dengan berlipat kebaikan pula :) Si teman punya buku keuangan yang rapi. Saya sampai takjub dengan perinciannya. Dia juga bercerita, uang hasil jual pulsa dianggapnya bukan miliknya. Kalau memang suatu saat dia butuh, dia akan ambil. Tapi statusnya pinjam, dan dia harus mengembalikannya. Saluut :D

Cerita empat, saya bersama dua orang teman kebetulan punya bisnis kecil-kecilan setahun terakhir ini. Tetek bengek keuangan diurusi oleh seorang teman yang memang terpilih karena dia yang paling teliti dari kami bertiga. Apapun dicatat olehnya. Pertanyaan apapun tentang kondisi jualan kita bisa dijawabnya dengan rinci. Dia mencatat apapun :)

Kesimpulannya, mencatat keuangan setiap hari itu penting. Apalagi perempuan. Kenapa? Diakui atau tidak perempuan kan memang lebih banyak jenis belanjaannya. Kadang susah membedakan kebutuhan dan keinginan. Relatif memang, tapi saya yakin kebanyakan perempuan seperti ini.

Seorang teman yang kini sedang merantau pernah berkata pada saya, belilah apa yang kamu butuhkan. Saya yang saat itu ada di minimarket bersama si teman untuk beli oleh-oleh, sampai berpikir keras akan beli apa yang sekiranya benar-benar dibutuhkan. Kami akhirnya beli sembako :D

Dan saya sekarang? blocknote pinkjreng (pink ngejreng) sudah setengah isinya. Kenapa pink? asumsinya, pink itu kesannya ceria. Ngejreng, supaya saya tidak pusing dengan angka-angka dan tetap melek. Jadi, mari mencatat keuangan kita setiap hari dengan ceria. Tak ketinggalan celengan pak raden yang duduk manis di pojok meja belajar. Dia setia menunggu sisa uang jajan saya setiap harinya. Menabung di celengan mungkin kuno, tapi eksotis dong. hehehe...

\(^.^)/

Jumat, 12 Agustus 2011

Anak Sekolah Vs Sapi #Cerita Sumba2


Sumba masih panas menyengat seperti hari-hari sebelumnya. Saat melewati sebuah gedung SD, segerombolan anak beramai-ramai memanggilku 'Ibu Islam! Ibu Islam!'. Seketika saya bangga dengan jilbab ini :). Panggilan polos itu hanya mampu saya jawab dengan senyum dan lambaian tangan, balas menyapa. Mengagetkan, mereka berdatangan menyalamiku sambil berucap 'Assalamu'alaykum' dengan logat lucu, malu-malu.

Saya pun menyalami satu persatu anak-anak itu sambil sesekali mengelus rambut merah keriting mereka. Mereka memang anak desa tanpa listrik, lahir dan hidup di Provinsi termisikin di Republik ini. Tapi senyum mereka sama tulusnya dengan senyum anak kecil di manapun. Dengan seragam lusuh, bertelanjang kaki, dan menenteng tas kresek berisi beberapa buku sekolah, mereka berteriak-teriak berdesakan menghampiri saya. Saya pun jatuh cinta lagi :)

Setelah puas berbagi beberapa permen yang ada di tas, saya berpamitan untuk melanjutkan perjalanan siang itu. Senyum lebar mereka rasanya lengkap ketika mereka berteriak 'Assalamu'alaykum Ibu Sukma Islam'. hehehe...Saya semakin jatuh cinta sedalam-dalamnya.

Hari itu, target responden saya adalah sebuah rumah tangga yang memiliki 8 orang anak usia sekolah. Keluarga ini adalah keluarga terpandang di kecamatan Kahaungu Eti, Sumba Timur. Keluarga ini memiliki jumlah ternak yang luar biasa banyaknya, ada sekitar 300 sapi dan 200 kuda yang mereka urus setiap harinya

Hewan ternak sebanyak itu memang bukan ternak konsumsi. Sapi, kerbau, dan kuda di Sumba menjadi investasi adat yang juga menjadi prestise untuk pemiliknya.

Setelah berkenalan dengan mama pemilik rumah, saya disuguh sirih pinang dan kopi pekat yang masih mengepul. Sampai pada sang mama bercerita, anaknya ada 8 orang. Anak tertuanya usia SMP yang sudah putus sekolah sejak lulus SD. Begitu juga dengan seorang adiknya. Sedangkan 4 anak lainnya sekarang duduk di bangku SD, 2 lainnya masih belum sekolah.

Saya : "kenapa adik-adik tidak melanjutkan sekolah ma? bukankah sekarang SMP pun sudah gratis?"

Mama : "iya, mereka sampai menangis minta masuk SMP. Tapi, kalau anak saya semuanya sekolah, siapa yang urus sapi dan kuda?"

Saya : *terdiam mencoba mengerti, lalu melanjutkan pendataan.

Di Sumba, setiap upacara adat mulai dari perkawinan dan kematian, ada ratusan ekor ternak yang harus disediakan oleh sang punya gawe. Untuk setiap upacara yang diadakan warga, minimal ada 100 ekor sapi dan puluhan kuda untuk jadi syaratnya. Jika syarat belum terpenuhi jumlahnya, upacara adat pun tak akan digelar. Pemuda yang ingin menikah harus lebih bersabar, atau bisa dengan jalan menyicil. Sedangkan jenazah pun harus disimpan dulu, menunggu keluarga mampu menyediakan semua syarat itu.

Kebutuhan adat yang begini besar ternyata menjadi batasan untuk hak pendidikan anak-anak di sana. Para orang tua pun lebih takut tidak bisa menyediakan kebutuhan adatnya daripada anaknya tak sekolah. Sebagian besar masih seperti itu. Semakmur-makmurnya keluarga di Sumba, mainstreamnya masih sama. Sudah bisa baca, tulis dan berhitung, itu sudah cukup.

Pulang dari rumah mama, saya berjalan kaki dan sekali lagi melewati SD yang tadi. Kini sekolah telah sepi ditinggal pulang murid-muridnya.

Saya yakin, semua anak-anak lucu tadi pasti lebih ingin duduk belajar di sekolah daripada menunggu sapi-sapi makan rumput. Saya pun yakin, mereka pasti lebih memilih berseragam putih biru daripada bertelanjang dada sambil memecut ratusan hewan ternak. Tapi ketika mereka dihadapkan pada satu-satunya jalan, menjadi penggembala, mereka pun tak memusuhi si sapi. Mereka akan memastikan sapi-sapinya kenyang sebelum masuk kandang sore nanti.

Perjalanan sore tak begitu terik lagi. Jalanan desa saya susuri sambil sesekali mengarahkan kamera ponsel ke bentangan jalan di depan mata. Sesampai di rumah yang menjadi basecamp kami, saya pun mengirim sms pada mamah di rumah.  "Mah..alhamdulillah yaa.. sayang mamaah :)"

Mamah : "kangen yo nduk?"

dalam hati : "sukma, mulai sekarang juga hentikan keluhan tentang apapun"

Kamis, 04 Agustus 2011

Sukma Hari Ini



I've seen the best , I've seen the worst...

Tiga hari terakhir ini mendung. Seharian. Kadang sengaja menunggu hujan, biar bau tanahnya bisa menyegarkanku. Tak peduli pada dinginnya, atau pada basahnya. Aku hanya ingin bau tanah.


Seseorang mengatakan mendungnya muram, dia tak suka. Kenapa harus mendung di pagi hari? di saat semua orang butuh energi dan semangat. Di pagi, di saat semua orang memulai segalanya bahkan harapannya.

Mungkin karena semua orang telah terbiasa dengan cerah. Telah lupa bagaimana cara menikmati mendung. Mungkin sudah hilang ingatannya tentang tenang yang diciptakan mendung. Tentang sejuk yang ditawarkan mendung.


Kupikir ini keseimbangan yang pasti dan harus terjadi. Mendung harus ada karena ada cerah. Seperti keajaiban yang harus ada karena kita percaya.

Tentang sukma yang ada di dalam mendung, tetap memilih untuk bahagia ;)

Chat With Sukma

Ini blog biasa, dengan misi sederhana..menulis sajalah. Semoga bermanfaat....=)